Total : 0 items   
HomeProfilBeritaBrowse ProdukCari ProdukInformasi PemesananHubungi Kami


Teknik Membuat Bonsai Grouping
October 9, 2009

Bonsai grouping adalah bonsai yang terdiri dari beberapa pohon dalam satu pot atau wadah yang sama. Banyak orang mengira bahwa bonsai grouping adalah kumpulan bakalan bonsai yang jelek sehingga dijadikan grouping sebagai pelariannya. Padahal, tidak musti harus begitu. Bonsai grouping justru menuntut seniman bonsai mampu mengkreasikan antara wadah atau pot, bebatuan, tanaman dan elemen penunjang lainnya. Ini bukan soal yang gampang.

Bagaimanakah caranya membuat bonsai dengan gaya grouping? Dalam sebuah pertemuan di Villa Sariwani, Desa Sariwani, kec. Sukapura, kab. Probolinggo, pakar bonsai internasional Robert Steven mempraktekkannya langsung di depan para penggemar bonsai yang datang dari berbagai kota.
Menurut Robert, bonsai grouping terdiri dari tiga kemungkinan.
1. Forest view, yaitu pemandangan hutan secara keseluruhan, jarak pandang agak jauh. Detil anatomi setiap pohon biasanya tidak terlalu diperhatikan. Silhouette dan komposisi lebih penting.
2. Close up view, seperti hutan yang dipandang dari jarak dekat. Jumlah pohon lebih sedikit, detil anatomi penting. Pohon master dan pelengkap ukurannya lebih siginifikan. Yang kecil biasanya untuk pembanding yang besar.
3. Landscape, adalah pemandangan sebuah panomana alam. Landscape masing-masing pohon terlihat dominan. Aspek perspektif lebih kental.

Disarankan, bahan atau pohon yang hendak dibuat bonsai grouping besarnya harus bervariasi, termasuk yang batangnya sebesar lidi pun bisa diperlukan. Kedua, semua bahan sebaiknya memiliki karakter yang hampir sama, walaupun belum tentu dipakai semua. Karena dalam satu pemandangan semua pohon pasti punya karakter gerak hampir sama. Jadi kalau ada pohon yang dramatis lantas digandengkan dengan yang lurus, jadinya agak aneh.
Jenis pohonnya juga sebaiknya sama. Kalau lain jenis sulit mengarahkan keindahannya. Konsentrasi pecah. Disampingitu, diperlukan pot marmer yang tipis (tray), untuk membuat nuansa alam landscape atau suihan penjing (daratan dan air).

Langkah-langkah
Pertama, mencari bahan untuk master, dimana pohon ini nantinya akan dominan, karena menjadi obyek utama. Diupayakan pohon yang relatif paling besar. Kalau tidak ketemu, bisa juga dengan cara beberapa pohon digabung satu grup menjadi master. Master sebaiknya jangan di tengah, harus off center. Karena untuk menciptakan komposisi. Anggap saja sementara flat (datar) dulu, lupakan sementara komposisi kedalamannya.
Kedua, minimal ada dua kelompok pohon, yang satu sebagai master, dan kelompok yang kedua untuk menonjolkan yang kelompok master. Bisa juga ditambah dengan pohon kelompok ketiga yang berguna untuk menciptakan perspektif, yaitu menarik foreground atau background. “Membuat landscape dibutuhkan kemampuan menciptakan ilusi jarak pandang,” kata Robert.
Ketiga, jangan ciptakan komposisi segitiga samakaki, harus asimetris. Ini komposisi paling dinamis dan tidak membosankan. Karena itu ada yang bilang jumlahnya harus ganjil. Padahal tidak harus demikian. Jumlah ganjil itu supaya berat sebelah sehingga asimetris, padahal di alam kita tak pernah menghitung jumlah pohon. Yang penting bagaimana menyusun asimetris, genap pun gak masalah. “Kita kalau baca aturan itu harus ditelisik dulu kenapa ada aturan seperti itu, jangan langsung dituruti,” ujar Robert.
Keempat, soal perantingan juga harus diperhatikan. Detil struktur perantingan masing-masing pohon, sama persis dengan membuat bonsai. Kalau perlu wiring ya wiring. Dan sebagainya. Jangan dikira kalau sudah dibuat grouping lantas masing-masing pohon tak perlu diperhatikan detailnya.
Masih soal perantingan, arah perantingan dua grup bisa dibuat searah atau saling berhadapan. Jangan sampai berlawanan. Karena dapat membuyarkan komposisi. Pohon kecil untuk memperkuat master dan menciptakan foreground. Kalau pohon kecil ada di belakang, mengesankan adanya pohon yang jauh. sedangkan kalau ada di depan, mengesankan sebuah pohon yang memang kecil. hnc