Membudidayakan tanaman obat ternyata mampu memberikan keuntungan tersendiri. Selain bisa dimanfaatkan sendiri hasil budidaya yang ada, dijual pun keuntungannya cukup lumayan. Belum lagi, kalau pembudidayannya mau berpikir kreatif mengolahnya menjadi serbuk kapsul. Seperti yang dilakukan I Gusti M. Oka Ratawan, mantan pegawai Dinas Kehutanan yang memanfaatkan masa pensiunnya membudidayakan tanaman obat.
Sejak tahun 1997, bapak sepuh yang masih tinggal di rumah dinas ini menggeluti usaha budidaya tanaman obat. Bisa dibayangkan, seberapa luas halaman rumah dinas yang disulapnya menjadi kebun tanaman obat? Namun, karena kesetiaan dan dedikasinya mengembangkan sumber obat herbal, keterbatasan tak membuatnya jadi kendala.
“Saya merasa, kita punya kekayaaan jenis tanaman yang luar biasa. Bahkan nomer 2 di dunia setelah negara Brazil,” katanya memulai perbincangan. Di halaman sempit itu sedikitnya terdapat 80 jenis tanaman obat, mulai yang mudah dijumpai, hingga yang langka. Jenis tanaman obat yang berasal dari negara lain pun juga ada yang jadi koleksinya.
Yang paling banyak diproduksi tanaman obat mahkota dewa, bahkan sampai sekarang produksinya sudah melebih target. Secara terus terang ia mengakui, satu-satunya modal dalam mengembangkan budidaya tanaman obat itu adalah kesabaran, ketekunan dan ketelatenan.
Semua tanaman merupakan hasil dari berburu di hutan-hutan, termasuk sampai ke Papua. Sejak masih aktif tugas di Dinas Kehutanan, I Gusti M. Oka Ratawan memang sudah getol menanam aneka jenis tanaman obat. Sekarang, ia tinggal menangguk hasilnya.
Lumayanlah hasilnya. Sekarang masih jarang ada orang membudidayakan tanaman herbal, jadi kalau di Bali sini nggak ada pesaingnya. Tak hanya menanam dan mengembangkan tanaman obat yang dikoleksinya, ia juga mengolah sendiri bahan baku menjadi serbuk kapsul. Alhasil, hampir 80% tanaman obatnya sudah menjadi produk olahan yang siap menembus pasar.
Kalau bisa berpikir kreatif pasti ada jalan. Caranya pun sangat mudah, dengan biaya produksi relatif minim. Dalam sebulan saja, ia sanggup memproduksi sekitar 2.000 butir kapsul dari satu jenis tanaman obat. Asumsinya, 10 kilogram daun basah menghasilkan 1 kilogram serbuk kapsul. Dalam sebulan sekurangnya 200 kilogram bahan basah bisa kami hasilkan. Dari sedikit tanaman obat yang dikebunkan di halaman rumahnya, I Gusti M. Oka Ratawan, kini sanggup memasok kebutuhan obat herbal di Bali.
Secara nasional memang belum, karena produksi saya masih sedikit, usaha pengembangan tanaman obatnya cuma dilakukan secara getok tular atau dari mulut ke mulut itu. Disamping, ia juga rajin mengikuti berbagai even yang ada.
Namun justru dari even itu usaha saya lebih dikenal. Hanya saja, menurutnya yang masih kurang dari produksinya adalah packing atau cara mengemasnya. Produk obat herbal yang dibuatnya selama ini hanya mengandalkan kemasan sederhana.
Tapi dari pengalaman yang ada, saya terus belajar dan sekarang saya coba untuk mengemas dengan cara lebih modern dan desain menarik. Hasilnya memang beda, dimana penjualan bisa lebih meningkat. Obat herbal yang diproduksi Taru Pramana ini punya beberapa item. Masing-masing item harganya berlainan. Untuk 1 kemasan berisi 45 kapsul harganya 20 ribu rupiah. Kalau paket obat yang dikonsumsi selama sebulan, seperti obat untuk kanker payudara, harganya 400 ribu.
“Harga ini jauh lebih murah ketimbang harga di Jakarta. Disana, obat paket harganya sampai 700 ribu,” jelas kakek yang sohiban dengan pakar obat herbal Prof. Hembing ini.
Perlu diketahui, satu jenis tanaman obat memiliki khasiat menyembuhkan 8 jenis penyakit. Kalau melihat khasiatnya yang cukup manjur itu, ia berharap akan banyak orang yang tertarik dengan pengembangan tanaman obat. “Disamping murah bahan baku, prospek pasar ke depan cukup bagus. Obat alternatif herbal sekarang lagi banyak dicari orang,” pungkasnya.way